Sejarah Desa

Sejarah Desa Wonorejo

Ki Ageng Mojo

Syahdan, Brawijaya 1 raja Majapahit mendapat sebuah wangsit saat cucunya dilahirkan, Bahwa  bayi tersebut yang akan menghancurkan kerajaan dan ajarannya yaitu agama Hindu suatu saat nanti. Adalah Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin yang nantinya dikenal dengan nama SUNAN GIRI salah satu dari sembilan Ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa yang dalam sejarah babad jawa dikenal dengan Tokoh WALI SONGO.

Karena impen tersebut maka demi tetap menjaga kelestarian Kerajaan Majapahit dan ajaran Hindu yang dianut oleh segenap priyagung, Kasepuhan dan penduduk di Kerajaan Majapahit, maka Brawijaya 1 memutuskan untuk memberi titah kepada Ki Ageng Mojo, salah satu punggawa kerajaan yang sangat dipercaya oleh Brawijaya agar supaya membunuh bayi tersebut karena diyakini akan menjadi ancaman bagi masa depannya.

Namun karena rasa kasihan dan iba pada bayi tersebut, maka Ki Ageng Mojo memutuskan untuk tidak melaksanakan perintah sang Raja agar membunuh bayi tersebut, sebaliknya justru beliau memilih untuk menghanyutkan si jabang bayi di sungai dengan cara dimasukkan di dalam sebuah keranjang, dengan harapan dari Ki Ageng Mojo agar supaya nantinya akan ditemukan oleh seseorang dan diasuh sampai dewasa.

Untuk mengelabuhi sang Raja, Kiai Mojo mencabut gigi dua ekor harimau yang kemudian darahnya dioleskan dan dilumurkan pada pakaian dan tubuh Kiai Mojo. Sehingga sang Raja percaya bahwa dia telah melaksanakan titahnya yaitu membunuh Raden Paku kecil.

Di tengah arus derasnya sungai yang mengalir menuju muara Raden paku kecil ditemukan oleh nelayan yang sedang mencari ikan. Saat melihat ada keranjang yang mengapung dan terlihat ada sesosok bayi kecil maka si nelayan mengambilnya dengan cara di jala. Kemudian bayi tersebut dirawat dan diasuh.

Singkat cerita, pada saat Raden Paku dewasa dan menjadi salah satu tokoh penyebar Agama Islam di tanah Jawa, dan agama Islampun mulai dipeluk oleh penduduk Majapahit maka Kiai Mojopun tak ketinggalan mendapatkan Hidayah dari Allah mengucapkan Syahadat dan menjadi seorang Muslim. Ajaran Hindu yang selama ini diyakini dan dipeluknya ditinggalkan.

Namun justru karena tindakannya ini, yaitu meninggalkan ajaran leluhur Majapahit dulu, maka akhirnya Ki Ageng Mojo diusir dari Majapahit dan beliau pergi berkelana ke tlatah Kesultanan Demak Bintoro yang pada saat itu menjadi pusat Penyebara Agama Islam, dengan harapan di Demak Bintoro beliau mendapatkan tempat dan perlakuan yang baik dari kesultanan dan penduduknya.

Dalam perjalanannya menuju Kesultanan Demak Bintoro Kiai Mojo di temani oleh dua orang cantrik yang setia mengikutnya, yang pertama bernama Kiai Wijoyo Kusumo dan yang kedua Bernama Nyai Santri Serut, Nyai Santri serut adalah orang yang selalu melayani beliau termasuk mencari Rumput untuk dijadikan makanan Kuda Ki Ageng Mojo.

 

 

Berdirinya Desa Wonorejo

Sesampainya di tlatah Demak Bintoro dan Nyuwito kepada Sultan Fatah maka Ki Ageng Mojo kemudian bermukim di suatu daerah yang masih berbentuk hutan belantara, hal itu dilakukan untuk menghilangkan jejaknya dari telik sandi atau mata-mata Kerajaan Majapahit yang ditugaskan untuk menumpas para tokoh yang dianggap pengkhianat Raja dengan memeluk Ajaran Islam.

Karena wilayah tersebut masih berbentuk hutan belantara, maka beliau menamakannya dengan sebutan WONOREJO.  Wono artinya Hutan belantara, dan Rejo artinya Makmur, dengan harapan nantinya wilayah tersebut menjadi perkampungan yang memberikan kemakmuran pada penduduknya.

Namun karena tidak ingin diketahui keberadaannya oleh telik sandi Majapahit, juga karena niat yang ikhlas dari Ki Ageng Mojo dan demi untuk memberikan penghargaan kepada pengikutnya yang setia, maka Ki Ageng Mojo memberikan Hak sebagai Ingkang Hayeyoso Desa  Kepada Nyai Santri Serut. Yang nama aslinya konon ada yang menyebutnya dengan Nyai Seruni, ada juga yang menyebut namanya dengan Nyai Rukmini. Sehingga sampai sekarang yang dikenal sebagai pendiri Desa Wonorejo adalah Nyai Santri Serut.

“Nggondo arum ning gon sing wis arum”  -Harum semerbak di tempat yang sudah harum-, demikian sabda dari Ki Ajeng Mojo kepada Nyai Santri Serut, dengan harapan agar cantrik nya tersebut mendapatkan nama yang harum dimasa mendatang. Hal ini dilakukan oleh Ki Ageng Mojo semata-mata karena rasa ikhlas yang sangat dalam beliau dan rasa sayang kepada cantrik nya.

Sampai akhirnya Ki Ageng Mojo wafat beliau masih bermukim di Desa Wonorejo, dan makamnya berada di komplek makam Mojo bersama dengan Raden Wijoyo Kusumo, sedangkan Nyai Santri Serut dimakamkan di Komplek Makam Serut.

*(Disarikan dari cerita KH. ABDUL MALIK dari Tuban Jawa timur, Wonorejo Ahad Kliwon 10 Januari 2015)